Kamis, 06 November 2014

Character Building

Ketika saya belajar di perkuliahan semester VI STIT Muslim Asia Afrika tepatnya pada hari selasa 28 Oktober 2014 ba'da magrib. Pada hari itu dosen mata kuliah jam kedua tidak dapat hadir dan hasilnya perkuliahan itu tidak dapat berlangsung. Namun, ada coretan (tulisan) yang menarik untuk saya baca dan tulis di kelas sebelah (perkuliahan semester VII STIT Muslim Asia Afrika). Apakah kalian tahu apa tulisan yang menarik itu?
Tulisan itu berkenaan dengan Character Building, di tulis oleh Ayi Zaenal Arifin, M.Pd. Isi dari tulisan itu mengenai Urgensi MengUpgrade Diri (Meningkatkan Kualitas Diri). Ya, dari judulnya menurut saya menarik. Terkadang dalam hidup, kita kurang semangat dalam menjalani persoalan maupun tantangan dan tidak jarang kita malas untuk memecahkan suatu tantangan itu. Maka menurut saya, materi Urgensi MengUpgrade Diri ini dapat mengembalikan semangat itu. Ada 4 (empat) Urgensi MengUpgrade Diri:
  1. Menumbuhkan semangat untuk terus bekerja
  2. Bisa terus berkompetisi
  3. Tetap eksis di medan kerja
  4. Memelihara jiwa untuk tetap bersemangat dalam setiap kondisi
Setelah itu maka timbul pertanyaan Bagaimana Cara MengUpgrade Diri? Ya, diantaranya yaitu:
  1. Milikilah target prestasi dan pertumbuhan kualitas
  2. Disiplin Beribadah
  3. Mulailah bertindak dan disiplin mensupervisi diri sendiri
  4. Luangkanlah waktu untuk berolahraga
  5. Luangkanlah waktu untuk membaca
  6. Ikat dan ingatlah Ilmu Anda
  7. Gunakan di tempat kerja dan ajarkan (Amalkan)
 Adapun cara untuk mencapai target prestasi:
  1. Komitmen pada janji Anda
  2. Mau melakukannya
  3. Tabah (kuat) menghadapi ujian-ujian atau cobaan
  4. Tetap fokus
Inilah yang membuat saya ingin membaca dan menulisnya di buku catatan kuliah, dan akhirnya saya tuangkan (bagikan) melalui blog ini. Semoga apa yang kita pelajari, lihat, alami dan rasakan dapat membawa manfaat bagi diri kita sendiri khususnya serta bagi orang lain (publik) umumnya. Mari kita menulis karena dengan menulis berarti kita juga membaca.
Terima kasih telah membaca blog ini. Ayo kita tanamkan semangat! "Kami bisa, yakin bisa, pasti bisa"
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Sungguh Indah Nama dan Sifat-Mu

Bila kita ingin menjadikan Al-Qur'an sebagai panduan hidup, maka kita harus banyak tahu tentangnya. Sebelum kita kaji kandungan Al-Qur'an, terlebih dahulu kita pahami nama dan sifat-Nya. Baik, mari kita bicarakan nama dan sifat itu! dalam buku "Mabahits fi ulumi Al-Qur'an" (Maktabah Wahbah, 2000), Manna' Khalil Al-Khaththan, menyebutkan ada 16 nama dan sifat Al-Qur'an, antara lain:
  1. Al-Qur'an (Bacaan)
Mengapa kitab suci disebut Al-Qur'an? "Sebab", kata Dr. Muhammad Abdullah Daraz dalam buku tersebut, "Ia membaca dengan lisan!" Ya, Al-Qur'an adalah bacaan wajib kita sebagai muslim. Sebab, sejak kita Aqil Baligh, kita wajib membaca Al-Qur'an, minimal 17 kali dalam sehari semalam. Karena setiap kita shalat wajib lima waktu, minimal kita harus membaca salah satu surah dalam Al-Qur'an, yaitu surah Al-Fatihah, belum dalam shalat sunahnya. Atau, membacanya diluar shalat. apalagi di masjid, di rumah, di tempat pengajian, di pesantren terutama pesantren tahfidz Al-Qur'an (Penghafalan Al-Qur'an), juga pada setiap acara keislaman, sebelum kata sambutan biasanya pembacaan kalam ilahi, Alias Al-Qur'an. Ya, intinya dari nama itu (Al-Qur'an) sesuai dengan kenyataan bahwa kitab suci kita sering kita baca. Atau sebagai bacaan setiap hari.
Seperti yang Allah Firmankan dalam Qs. Al-Isra' Ayat 9.
Yang lebih penting adalah mengingat Allah SWT dengan membaca Al-Qur'an setiap waktu. 

Senin, 20 Mei 2013

Three arjuna Part II

three arjuna part 2
Mystery is revealed, arjuna 3've ignored it again. because he already knew who the players heart behind all of this. he wanted to live a life with a beautiful color and a strong heart. indeed unusually strong heart that God Almighty created this. Arjuna 2 was now getting her idol, to Arjuna 1 apparently still in limbo. God willing, this evening to 3 Arjuna will meet at a place to separate up to do together after a long time, because the course never be active again.
one word that probably came out this afternoon is "Everything happens for a reason. Though sometimes you do not know why, but he always gave you a lesson"

continued ..........!!!!!!!!!!
 — with Dzokim Aziz and Maksum Asoleh at Tangerang Selatan.

Rabu, 03 April 2013

Tugas Psikologi Pendidikan Semester 2


Setelah melihat tentang Pengertian Psikologi Menurut Para Ahli dan Pentingnya Psikologi bagi Pendidikan, kali ini kita akan lebih jauh melihat tentang apa sebenarnya manfaat psikologi pendidikan bagi guru dalam proses belajar mengajar.
Sebelum sampai pada pembahasan mengenai “buah” yang dapat dipetik dari psikologi pendidikan, terlebih dahulu perlu penyusun utarakan manfaat psikologi ini bagi guru dan calon guru. Menurut Lindgren sebagaimana yang dikutip Surya (1982), manfaat psikologi pendidikan ialah untuk membantu para guru dan para calon guru dalam mengem­bangkan pemaham yang lebih baik mengenai kependidikan dan prosesnya.
Sementara itu, Chaplin (1972) menitikberatkan manfaat psikologi pendi­dikan untuk memecahkan masalah-masalah yang terdapat dalam dunia pen­ didikan dengan cara menggunakan metode-metode yang telah disusun secara rapi dan sistematis. Hal ini tercermin dalam ungkapannya :… the application of formalized methods for solving these problems. Tak perlu dibedakan apakah masalah-masalah psikologis yang timbul itu dari pihak guru, siswa, atau situasi belajar-mengajar yang dihadapi guru dan siswa yang bersangkutan.
Dari dua macam pendapat di atas dapat kita simpulan bahwa, secara umum psikologi pendidikan merupakan alat bantu yang penting bagi para penyelenggara pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Mengapa demikian? Karena prinsip yang terkandung dalam psikologi pendidikan dapat dijadikan landasan berpikir dan bertindak dalam mengelola proses belajar-mengajar. Sedang proses tersebut, sebagai­mana yang telah penyusun singgung sebelumnya, adalah unsur utama dalam pelaksanaan setiap sistem pendidikan.
Setidak-tidaknya ada 10 macam kegiatan pendidikan yang banyak me­merlukan prinsip-prinsip psikologis, yakni: 1) seleksi penerimaan siswa baru; 2) perencanaan pendidikan; 3) penyusunan kurikulum; 4) penelitian kependidikan; 5) administrasi kependidikan; 6) pemilihan materi pelajaran; 7) interaksi belajar-mengajar; 8) pelayanan bimbingan dan penyuluhan; 9) metodologi mengajar; 10) pengukuran dan evaluasi. Dalam menerapkan prinsip-prinsip sikologis tersebut, diperlukan adanya figur­figur guru yang kompeten.
Selanjutnya guru yang kompeten dalam perspektif psikologi pendidikan adalah guru yang mampu melaksanakan profesinya secara bertanggung jawab. Adapun guru yang bertanggung jawab adalah guru yang mampu mengelola proses belajar-mengajar sebaik-baiknya sesuai dengan prinsip­-prinsip psikologis. Dalam buku ini, penyusun sajikan pelbagai informasi teoretis dan praktis yang dapat dipandang sebagai buah-buah yangbisa dipilih dan dipetik sesuai dengan pertimbangan kebutuhan sebagaimana terungkap di muka.
Manfaat Psikologi Pendidikan Bagi Guru dalam Proses Belajar Mengajar
Adapun mengenai buah yang perlu anda petik dari psikologi pen­didikan itu, akan penyusun paparkan lebih lanjut. Namun, tentu anda dapat memperbanyak buah-buah yang perlu anda petik dari psikologi pendidikan sepanjang anda membutuhkannya. Adapun mengenai buah yang perlu anda petik dari psikologi pen­didikan itu, akan penyusun paparkan lebih lanjut. Namun, tentu anda dapat memperbanyak buah-buah yang perlu anda petik dari psikologi pendidikan sepanjang anda membutuhkannya.
Pertama, Proses Perkembangan Siswa
Di kalangan para guru dan orang tua siswa terkadang timbul pertanyaan apakah perbedaan usia antara seorang siswa dengan siswa lainnya membuat perbedaan substansial (bersifat inti) dalam hal merespons pengajaran. Pertanyaan ini perlu dicari jawabannya melalui pemahaman tahapan-tahapan perkembangan siswa dan ciri-ciri khas yang mengiringi tahapan perkembangan tersebut.
Tahapan-tahapan perkembangan yang lebih perlu dipahami sebagai bahan pertimbangan pokok dalam penyelenggaraan proses belajar­ mengajar adalah tahapan-tahapan yang berhubungan dengan perkemba­ngan ranah cipta para siswa. Ranah cipta (akal) dengan segala variasi dan keunikannya merupakan modal dasar para siswa dalam menjalani proses belajar-mengajar dan pembelajaran materi tertentu, serta dalam mengikuti proses belajar-mengajar yang dikelola guru kelas.
Kedua, Cara Belajar Siswa
Di mana pun proses pendidikan berlangsung, alasan utama kehadiran guru adalah untuk membantu siswa agar belajar sebaik-baiknya. Oleh karena itu, adalah hal esensial (pokok, dasar) bagi guru untuk memahami sepenuhnya cara dan tahapan belajar yang terjadi pada diri para siswanya.
Pengetahuan anda yang pokok mengenai proses belajar tersebut meliputi:
1.      signifikansi (arti penting) belajar;
2.      teori-teori belajar;
3.      hubungan belajar dengan memori dan pengetahuan; dan
4.      fase-fase yang dilalui dalam peristiwa belajar.
Di samping ini semua, yang penting pula anda pahami ialah pendekatan belajar, kesulitan belajar, dan alternatif-alternatif (pilihan­-pilihan) yang dapat diambil untuk menolong siswa anda dalam mengatasi kesulitan-kesulitan belajarnya.
Ketiga, Cara menghubungkan Mengajar dengan Belajar
Tugas utama guru sebagai pendidik sebagaimana ditetapkan oleh Unda Undang Sistem Pendidikan Nasional kita adalah mengajar. Secara singkat , mengajar adalah kegiatan menyampaikan materi pelajaran, melatih keterampilan, dan menanamkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam materi pelajaran tersebut kepada siswa. Agar kegiatan mengajar diterima oleh para siswa, guru perlu berusaha membangkitkan gairah dan minat belajar mereka. Kebangkitan gairah dan minat belajar para siswa akan mempermudah guru dalam menghubungkan kegiatan mengajar dengan kegiatan belajar.
Oleh karena itu, sebagai calon guru atau guru yang sedang bertugas anda sangat diharapkan mengerti benar seluk-beluk mengajar baik dalam arti individual (sepertiremedial teaching/mengajar perbaikan bagi siswa bermasalah) maupun dalam arti klasikal. Dalam hal ini, anda tentu dituntut pula untuk memahami model-model mengajar, metode-metode mengajar dan strategi-strategi mengajar. Kemudian, metode-metode dan strategi yang anda terapkan secara cermat dalam proses belajar-mengajar yang and kelola. Untuk memenuhi kebutuhan anda akan hal-hal tersebut, sengaja penyusun sajikan pembahasan-pembahasan essencial mengenai mengajar guru, dan hubungan guru dengan proses mengajar seperti dapat anda lihat pada Bab 7 dan Bab 8 yang merupakan bab-bab terakhir dalam buku ini.
Keempat, Pengambilan Keputusan untuk Pengelolaan PBM
Dalam mengelola sebuah proses belajar-mengajar (PBM), seorang guru dituntut untuk menjadi figur sentral (tokoh inti) yang kuat dan berwibawa namun tetap bersahabat. Sebelum mengelola sebuah proses belajar mengajar, anda perlu merencanakan terlebih dahulu satuan bahan atau materi dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai (lihat halaman 243). Sesuai perencanaan materi dan tujuan penyajiannya, anda perlu menetapkan kiat yang tepat untuk menyampaikan materi tersebut kepada para siswa dalam situasi belajar-mengajar yang efisien.
Untuk memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan kegiatan di atas anda dituntut untuk menempatkan diri sebagai pengambil atau pembuat keputusan (decision maker) yang penuh perhitungan untung-rugi ditinjau dari sudut kajian psikologis. Jika tidak, pengelolaan tahap-tahap interaksi belajar-mengajar akan tersendat-sendat dan boleh jadi akan gagal mencapai tujuannya.
Agar sebuah pengelolaan proses belajar-mengajar mencapai sukses, seorang guru hendaknya memandang dirinya sendiri sebagai seorang profesional yang efektif. Lalu, pandangan positif ini diejawantahkan dalam vang sesuai dengan kebutuhan para siswa dan penegasan tujuan-tujuan penyajian materi tersebut secara eksplisit, yakni tersurat dan gamblang. Keputusan lain yang harus diambil selanjutnya adalah penetapan model, metode, dan strategi mengajar yang menurut tinjauan psikologis sesuai dengan jenis dan sifat materi, tugas yang akan diberikan kepada para siswa dan situasi belajar-mengajar yang diharapkan.
Namun dalam hal pengambilan keputusan-keputusan di atas perlu penyusun utarakan hambatan-hambatan yang umum dialami para guru. Faktor-faktor penghambat-atau paling tidak pembatas gerak-pembuatan keputusan-keputusan instruksional yang sering merintangi para guru pada umumnya meliputi:
1.      kurangnya kesadaran guru terhadap masalah-masalah belajar yang mungkin sedang dihadapi para siswa;
2.      kesetiaan terhadap gagasan lama yang sebenarnya sudah tak dapat diberlakukan lagi;
3.      kurangnya sumber-sumber informasi yang diperlukan; dan
4.      ketidakcermatan observasi terhadap situasi belajar-mengajar.
Selain hal-hal di atas, hambatan mungkin pula muncul dari perbedaan harapan guru dan siswa. Beberapa orang siswa dalam sebuah kelas misal­nya, mungkin memiliki cita-cita memenuhi kebutuhan masa depannya yang sama sekali berbeda dengan rekan-rekannya atau bahkan menyimpang dari karakteristik sekolah yang mereka ikuti. Perbedaan seperti ini akan mengakibatkan munculnya perbedaan gaya belajar, sikap, dan perilaku mereka selama membaur dalam proses belajar-mengajar. Selanjutnya, tekanan dari luar dapat pula mempengaruhi kemulusan pengambilan keputusan oleh guru. Tekanan luar ini bisa datang dari orangtua siswa, aturan administratif sekolah, fasilitas yang tersedia, dan sebagainya.
Sumber :
Psikologi pendidikan merupakan salah satu cabang dari ilmu psikologi yang mempelajari bagaimana manusia belajar dalam pendidikan pengaturan, efektivitas intervensi pendidikan, psikologi pengajaran, dan psikologi sosial dari sekolah sebagai organisasi. Hal senada juga diungkapkan oleh Muhibbin Syah (2002) bahwa psikologi pendidikan adalah sebuah disiplin ilmu psikologi yang menyelidiki masalah psikologis yang terjadi dalam dunia pendidikan. Dari beberapa definisi tersebut dapat kita simpulkan bahwa psikologi pendidikan adalah salah satu ilmu yang mempelajari  tentang perilaku manusia di dunia pendidikan yang meliputi  studi sistematis tentang proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan. Prilaku yang dimaksud di sini bisa terkait dengan prilaku pendidik ataupun prilaku peserta didiknya.
Dari definisi di atas kita bisa mengetahui bahwa dalam dunia pendidikan untuk mencapai pendidikan yang maksimal dan efektif bukan hanya terkait pembahasan kurikulum belaka, namun juga permasalahan psikologis peserta didik dan model pengajaran pendidiknya juga harus tetap diperhatikan. Oleh karena itu, psikologi pendidikan menjadi penting untuk dipelajari oleh setiap pendidik ataupun calon pendidik. Berikut terdapat beberapa manfaat  dalam mempelajari psikologi pendidikan:
1. Memahami Perbedaan Siswa (Diversity of Student)
Setiap individu dilahirkan dengan membawa potensi yang berbeda-beda, tidak ada yang sama antara siwa satu dengan siswa yang lainnya. Oleh karena itu, seorang guru harus memahami keberagaman antara siswa satu dengan siswa yang lainnya, mulai dari perbedaan tingkat pertumbuhannya, tugas perkembangannya sampai pada masing-masing potensi yang dimiliki oleh anak. Dengan pemahaman guru yang baik terhadap siswanya, maka bisa menciptakan hasil pembelajaran yang efektif dan efisien serta mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif.
2. Untuk Memilih Strategi dan Metode Pembelajaran
Sebagai sorang pendidik dalam memilih strategi dan metode pembelajaran harus menyesuaikan dengan tugas perkembangan dan karakteristik masing-masing peserta didiknya. Hal ini bisa didapatkan oleh seorang guru melalui mempelajari psikologi terutama tugas-tugas perkembangan manusia. Jika metode dan model pendidikan sudah bisa menyesuaiakan dengan kondisi peserta didik, maka proses pembelajaran bisa berjalan dengan maksimal.
3. Untuk menciptakan Iklim Belajar yang Kondusif di dalam Kelas
Kemampuan guru dalam menciptakan iklim dan kondisi pembelajaran yang kondusif mampu membantu proses pembelajaran berjalan secara efektif. Seorang pendidik harus mengetahui prinsip-prinsip yang tepat dalam proses belajar mengajar, pendekatan yang berbeda menyesuaikan karakteristik siswa dalam mengajar untuk menghasilkan proses belajar mengajar yang lebih baik. Disinilah peran psikologi pendidikan yang mampu mengajarkan bagaimana seorang pendidik mampu memahami kondisi psikologis dan menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif,  sehingga proses pembelajaran di dalam kelas bisa berjalan secara efektif.
4. Memberikan Bimbingan dan Pengarahan kepada Siswa
Selain berperan sebagai pengajar di dalam kelas, seorang guru juga diharapkan bisa menjadi seorang pembimbing yang mempu memberikan bimbingan kepada peserta didiknya, terutama ketika peserta didik mendapatkan permasalahan akademik. Dengan berperan sebagai seorang pembimbing seorang pendidik juga lebih bisa melakukan pendekatan secara emosional terhadap peserta didiknya. Jika sudah tercipta hubungan emosional yang positif antara pendidik dan peserta didiknya, maka proses pembelajaran juga akan tercipta secara menyenangkan.[1]


5. Mengevaluasi Hasil Pembelajaran
Tugas utama guru/pendidik adalah mengajar di dalam kelas dan melakukan evaluasi dari hasil pengajaran yang sudah dilakukan. Dengan mempelajari psikologi pendidikan diharapkan seorang pendidik mampu memberikan penilaian dan evaluasi secara adil menyesuikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik tanpa membedakan antara satu dengan yang lainnya.     



[1] http://blog.uin-malang.ac.id/muallifah/2012/09/05/manfaat-mempelajari-psikologi-pendidikan-bagi-para-pendidik/